Menziarahi Pocut Meurah Intan di Blora

Jam tangan menunjukan pukul 02.30 dinihari waktu Blora ketika kami 4 perempuan Aceh yakni saya, Rita Rosida, Nur Zubaidah dan Imelda Suraiya dengan kereta api tiba di stasiun Cepu. Hari itu Sabtu, 15  Desember 2018, berbekal kobar semangat, niat tulus dan ikhlas, kami berziarah ke pusara srikandi Aceh yang dibuang dan dikebumikan jauh dari tanah kelahirannya.


Dari stasiun Kereta di Cepu selanjutnya meneruskan perjalanan dengan menumpang dua mobil secara beiringan ke Blora. Pemandangan hutan pohon jati  pukul 03.00 pagi itu gelap-gulita dalam  hutan yang sunyi. Tokoh Aceh Kanda Teuku Salahuddin yang memimpin 22 KK Aceh di Cepu Blora Rembang dan Bojonegoro mengawal ziarah bersejarah ini.


Kebaikan seorang perempuan Blora dan kolega masyarakat memfasilitasi kunjungan kami menuju tujuan, cukup membuat kami membatin dan meneteskan air mata, haru dalam khayal ke masa puluhan tahun silam saat membayangkan perjalanan Sang Pejuang dalam pengasingannya. Pasti dan pasti pejuang kami berjalan dalam susahnya perjalanan dan rimbun nya hutan jati Blora.


Alhamdullilah, seorang putra Aceh yang menjadi sesepuh masyarakat Aceh di Blora turut memfasilitasi perjalanan terhormat, menuju makam pejuang dari negeri serambi Mekkah. Areal makam sang pemberani itu berada di Tegal Sari, 5 kilometer arah Utara alun alun kota Blora. Disitulah Pocut Meurah Intan yang dikenal dengan sebutan Pocut Di Biheue  lelap dalam tidur panjangnya .


Di bawah rimbunan bak jambee kleng (pohon jemblang) dan Kamboja, serta diantara makam terpilih lainnya, “Mbah Cut” Atau “Ibu Nya Pocut ” begitu  masyarakat Blora menyapanya, sering dikunjungi khususnya dalam peringatan Hari Pahlawan dan Hari Pramuka. Begitu kata ustad Riza asal Blora yang memimpin doa dalam perjalanan ziarah kami ini.


Assalamualaikum Nyakshik…

Kami datang dengan izin Allah, menziarahimu, membersihkan rumput liar yang menemaniamu dalam sepi, untuk menyampaikan hormat dan doa atas pengorbanan untuk sebuah harga diri dan kemerdekaan bangsa kita.

Izinkan kami berdoa, menabur bunga dan harum kenanga, di pusara yang diam tanpa simbol kehebatan   dan kemewahan keturunan bangsawan Aceh,

Alfatihah …


Pocut Meurah Intan adalah seorang pejuang yang dilahirkan di Biheue tahun 1833. Berdasar cerita sejarah yang kami himpun dan rangkum, Biheue adalah ulee balang di bawah kekuasaan kesultanan Aceh yang berdiri sejak tahun 1496-1903. Biheue masuk wilayah Sagi XXII Mukim karena terjadi krisis politik pada akhir abad ke XIX wilayah itu menjadi bagian wilayah XII mukim yang mencakup Pidie, Batee, Padang Tiji, Kalee, dan Laweung. Pocut Meurah Intan sang pejuang adalah putri Keujruen  Biheue yang merupakan keturunan Sultan Aceh.


Bersuamikan Tuanku Abdul Madjid bin Tuanku Abbas bin Sultan Alaudin Johar Alamsyah, Pocut memiliki 3 putra yaitu Tuanku Muhammad Batee, Tuanku Budiman dan Tuanku Nurdin, semua anak kebanggaanya itu seolah  lahir hanya untuk berjuang dan menjadi pejuang bangsa yang hebat.


Selain sebagai pejuang, Pocut Meurah Intan juga mertua dari permaisuri Sultan Muhammad Daud Syah, Sultan Aceh  terakhir yang mangkat tahun 1939 dalam pengasingannya di Batavia.


Pocut Meurah Intan dipenjarakan bersama anak anaknya di kutaradja. sampai Belanda memutuskan mengasingkan Pocut Meurah Intan bersama anaknya Tuanku Budiman, Tuanku Nurdin pada tahun 1905 ke Blora,  sementara tuanku Muhammad Batee diasingkan ke Sulawesi Utara


Sejak 1905 berdasar informasi turun temurun dari masyarakat Blora, ustad Riza menyampaikan bahwa Mbah Cut atau Ibu Nyai Pocut berpesan kepada sahabat karibnya RM Ngabehi  Dono Muhamad, bahwa Pocut lebih suka dimakamkan di Blora. Di tanah Blora itulah beliau tidur panjang dengan bekal perjuangan dan ibadahnya.


Dan


Di tanah Blora itulah beliau tidur panjang  dengan bekal perjuangan dan ibadahnya.


Di pusara itulah juga tertulis Pocut Meurah Intan 20 9 1937


Makam, pusara itu

Kusam penuh lumut yang mengering, mengelupas, lekang di kala panas.

Makam, pusara itu

Tanpa isyarat apapun tentang kehebatannya

Walau dia  adalah pejuang kemerdekaan Indonesia dari Aceh yang mangkat dalam pengasingan di Blora.

Wahai para pemimpin bangsa kami..

Kirimilah dia doa dalam nafasmu

Walau ia tidak pernah minta di sanjung dan di puja.

POCUT MEURAH INTAN

Kami tidak mengenal mu tetapi doa kami semoga Allah SWT menempatkanmu di sisi muliaNya. Tenanglah engkau bersama Allah SWT.


Blora, 16 Desember 2018 

Beri Komentar